
"Saya sangat berterima kasih sama istri saya. Istri saya itu sabar sekali merawat saya selama 30 tahun. Saya rasa gak ada yang sesabar istri saya," ucap Pak Dakir dengan penuh haru.
--
30 tahun terakhir tumor yang tumbuh di wajah Pak Dakir. Kini, tumor itu bahkan lebih besar dari kepalanya sendiri, dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Setiap hari, ia berkeliling menjual rengginang, berharap ada yang mau membeli dagangannya. Namun, tak jarang orang-orang enggan mendekat, merasa takut melihat kondisinya, hingga Pak Dakir pulang dengan tangan kosong.

Dulu, Pak Dakir bekerja sebagai penjaga villa. Namun, pengunjung villa banyak yang protes karena takut dengan wajahnya yang penuh tumor, sehingga Pak Dakir pun diberhentikan. Sejak saat itu, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mirisnya, meskipun Pak Dakir memiliki banyak saudara, tak ada satu pun yang mau membantu. Hanya sang istri yang setia menemani dan merawatnya selama ini.
Namun, hidup tidak selalu mudah bagi mereka. Cemoohan dari orang-orang tak jarang menghujam hatinya, menyebut Pak Dakir dengan kata-kata seperti "kutukan," "manusia mirip monster," dan "suami tak berguna."
Meski demikian, semangat Pak Dakir tak pernah padam. Dia tetap berjuang, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi istri tercintanya yang selalu berada di sisinya. Setiap hari, dengan bahu yang lemah dan tubuh yang sakit, Pak Dakir memanggul berkilo-kilo rengginang, meski hanya mendapatkan keuntungan kecil dari penjualannya.

Namun, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi membayar iuran BPJS. Pak Dakir harus bersabar mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli salep dan pereda nyeri di klinik.
Jangan biarkan perjuangan Pak Dakir melawan tumor selama 30 tahun berakhir tanpa harapan. Hari ini, kita masih punya kesempatan untuk membantunya mendapatkan pengobatan yang layak. Berapa pun donasi yang diberikan dapat menjadi langkah besar menuju kesembuhannya.