
“Saya pernah diludahi orang, dikira pura-pura cacat untuk cari simpati. Tapi saya tetap bertahan. Bukan buat saya, tapi buat anak saya..” ucap Bu Siti.

Bu Siti terlahir tanpa kedua kaki dan tangan yang tak sempurna. Namun, kondisi itu tak pernah menghentikannya untuk terus berjuang. Setiap hari, ia merangkak menyusuri jalanan dan berdiri di perempatan lampu merah demi menjual koran dan menyambung hidup.

Sejak merantau pada tahun 2006 bersama anaknya yang saat itu masih bayi, hidup tak pernah mudah baginya. Ia memulai segalanya tanpa modal, bahkan harus dibantu oleh sesama pedagang koran untuk bisa mulai berjualan.
Koran-koran yang ia jual didapat dari tetangganya. Dari setiap lembar, Bu Siti hanya mendapat upah 500 perak. Dalam sehari, penghasilannya paling tinggi sekitar 10 ribu rupiah dan sering kali jauh di bawah itu. Apalagi koran makin jarang dibeli. Kadang, hanya lima yang terjual dalam sehari.
Ia sering menahan lapar seharian demi bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan anak dan membayar sewa tempat tinggal.
Namun, yang paling menyakitkan adalah perlakuan orang-orang yang memandangnya sebelah mata. Ia pernah diludahi karena disangka mengemis. Tubuhnya yang kecil juga beberapa kali terserempet kendaraan karena tak terlihat oleh pengendara. Tapi semua itu ia tahan, demi anaknya.
Sahabat, mari bantu ringankan perjuangan Bu Siti, seorang ibu yang selama ini berjuang sendiri demi anaknya. Donasimu bisa menjadi pelipur lara, agar ia tak lagi harus menahan lapar dan kesakitan sendirian.